6 Elemen Kunci Keberhasilan Membangun Program K3

Apakah di perusahaan Anda masih sering terjadi kecelakaan kerja atau bahkan cenderung meningkat setiap tahunnya? Apa yang menjadi penyebabnya? Untuk menemukan jawabannya, cobalah lihat, apakah penerapan program K3 di perusahaan Anda sudah efektif? Apakah Anda konsisten menjalankannya? Jika belum, bisa jadi safety program yang belum optimal merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaan kerja di perusahaan Anda.

Apa itu safety program atau program k3?

Safety program atau program K3 merupakan akar dari implementasi K3 untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Safety program berisi perencanaan mencakup unsur-unsur K3 yang dirancang untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Program K3 ini berisi rencana kegiatan sesuai yang dipersyaratkan oleh UU No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Rancangan safety program di setiap perusahaan tentu berbeda-beda. Maka dari itu, selain untuk pemenuhan kebutuhan persyaratan undang-undang atau peraturan K3, safety program pun harus dikembangkan berdasarkan jenis dan karakteristik serta budaya kerja sebuah perusahaan.

Bagaimana cara membangun sebuah safety program yang efektif?

Agar safety program Anda berhasil dan berjalan efektif, sebaiknya perhatikan 6 elemen kunci dalam membangun program K3 berikut ini:

Elemen 1 – Komitmen dan keterlibatan manajemen

“Your employees learn by example. If they don’t see you practicing good safety habits, they won’t think safety is important.” – Electrical Construction & Maintenance

Sebagai safety officer mungkin Anda pernah mendengar atau bahkan bertanya “Dari mana mulainya suatu implementasi K3?”. Para ahli K3 pun dengan tegas menjawab, “K3 dimulai dari orang berkerah putih atau orang berdasi di perusahaan tersebut”.

Ya, maksud dari pernyataan di atas adalah implementasi program K3 yang efektif harus dimulai dari top manajemen dan tim manajemen. Komitmen dan keterlibatan top manajemen dan jajaran manajemen merupakan hal paling mendasar dan penting dalam menggerakkan partisipasi pekerja dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.

Komitmen ini harus menjadi prioritas utama pemimpin dan manajemen dalam mewujudkan program K3 yang efektif. Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan menyertakan pentingnya K3 dalam misi perusahaan dan melibatkan pekerja untuk mengikuti semua prosedur K3.

Baca juga

  1. 10 Tips Bekerja dengan Aman dan Selamat
  2. Peranan Perawat Hiperkes di Perusahaan
  3. Peran Ahli K3 Umum dalam Peningkatan Produktivitas & Efisiensi Kerja

Elemen 2 – Identifikasi bahaya dan penilaian risiko

Program ini berisi proses mengenali bahaya pada suatu pekerjaan, membuat identifikasi bahaya dan nilai dari risiko tersebut kemudian melakukan pengendalian terhadap risiko bahaya yang telah diidentifikasi. Tujuan dari identifikasi bahaya dan penilaian risiko ini untuk mencegah dan meminimalkan kecelakaan kerja serta meningkatkan produktivitas.

Dengan adanya identifikasi bahaya dan penilaian risiko, pekerja diharapkan dapat membedakan antara:

  • Bahaya di tempat kerja
  • Pekerjaan yang membahayakan, seperti pengelasan, menggerinda, dll.
  • Bahaya lingkungan, seperti limbah B3, debu, dll.
  • Penggunaan APD sesuai jenis bahaya dan pekerjaan

Bahaya di tempat kerja yang teridentifikasi harus dievaluasi potensial efeknya untuk menentukan prioritas pengendaliannya. Dalam penentuan prioritas, Anda dapat menggunakan sistem rating dari risiko.

Elemen 3 – Kebijakan dan peraturan K3 harus dibuat secara tertulis

Dalam hal ini, manajemen harus bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan dan peraturan K3 yang jelas bagi pekerjanya. Untuk menciptakan safety culture, tanggung jawab pekerja harus dibuat secara jelas dan tertulis. Kebijakan dan peraturan K3 ini sangat penting untuk meminimalkan kekeliruan terkait pekerjaan yang berhubungan dengan K3.

Berikut daftar peraturan K3 yang harus dibuat secara tertulis:

Menu
× Butuh bantuan? klik disini!